Minggu, 02 September 2007

Glaukonit, mineral hijau yang eksotis...

Habis ngecek pemetaan mahasiswa yang lagi bertugas Pemetaan Mandiri di daerah antara Blora dan Cepu (Oky, Juni, Salman, Puja dan Danawan), cukup jauh dari Yogyakarta. Mesti nyewa mobil untuk sampai di sana dengan cepat. Tidak ada sesuatu yang menarik selama perjalanan, karena seperti biasa asal kena angin jalan yang sepoi-sepoi dan basah, saya pasti tertidur pulas dan bangun ketika mobil berhenti. Namun di salah satu lokasi yang akan saya cek bersama 5 mahasiswa, ada sesuatu yang menarik. Glaukonit yang berwarna hijau tua yang hadir pada batuan batupasir karbonatan (entah lah belum ngecek petrografinya). Dari dulu cuman dengar istilahnya saja, belum lihat barangnya, he..he...

Istilah glaukoni dan glaukonit merupakan istilah yang umum dijumpai pada literatur tentang batuan sedimen. Istilah glaukoni (glaucony) diperkenalkan oleh Odin & Letolle (1980) untuk suatu butiran yang terbentuk oleh proses pembentukan glaukonit. Ini bukan nama sebuah mineral, tetapi lebih kepada istilah morfologi atau fasies. Istilah glaukonit telah digunakan oleh ahli-ahli sedimentologi (sedimentologists) untuk mengidentifikasi suatu mineral lempung hijau yang kaya akan potas (K2O lebih dari 8%) yang pada awalnya dijumpai dalam fasies glaukoni.

Jadi, istilah glaukonit (menurut beberapa referensi, lihat di bawah) melingkupi suatu seri mineral mika yang kaya besi yang terbentuk pada lapis bagian atas sedimen dasar laut pada lokasi dimana masukan sedimennya kecil. Sulit kan dicerna, wong diterjemahkan asal-asalan... Btw, meskipun cukup sulit dipahami namun mineral ini sungguh menarik bagi ahli geologi atau sedimentologi. Mineral ini merupakan suatu mika yang terbentuk dari beraneka macam material awal (e.g., biotit) oleh proses diagenesis pada lingkungan laut.

Karena kandungan potas (K)- dan proses pembentukannya, mineral ini merupakan salah satu dari mineral yang dapat digunakan untuk stratigrafi sekuen dan menentukan umur sedimentasi (K-Ar dating). Jadi kalau anda ingin menentukan kedua hal ini dan pas ada mineral-mineral berbentuk pelet berwarna hijau, coba tes dengan XRD apakah benar glaukonit atau bukan. Kalau benar, anda bisa memanfaatkannya untuk kedua hal di atas. Selain itu, kandungan potas pada glaukonit juga dapat digunakan untuk menentukan kematangan dan mengevaluasi waktu yang dibutuhkan untuk pembentukannya.

Saran bacaan
  • Giresse, P., Wiewióra, A., Grabska, D., 2004. Glauconitization processes in the northwestern Mediterranean (Gulf of Lions). Clay Minerals 39: 57-73.
  • Longuépée, H., Cousineau, P. A., 2006. Constraints on the genesis of ferrian illite and aluminium-rich glauconite: Potential impact on sedimentology and isotope studies. The Canadian Mineralogist 44: 967-980.

1 komentar:

Djoeney Tjandra mengatakan...

kok cuma segitu pak???
Ngmg2 nama mahasiswa nya sapa ya pak?