Senin, 08 November 2010

Apakah abu Merapi akan merusak relief Candi Borobudur?

Kekhawatiran akan rusaknya relief candi oleh abu vulkanik Merapi tampaknya terlalu terburu-buru, tanpa didasari oleh hasil analisis kimia terhadap kandungan abu vulkanik yang jatuh di sekitar candi. Secara kasat mata (maksudnya mengamati batu candi sambil cuci mata), sebagian besar candi-candi di Jawa Tengah tersusun oleh batu andesit yang cukup kuat diterpa oleh proses-proses alam luar bumi (eksogenik).

Jika dengan asumsi abu vulkanik mengandung belerang atau gas belerang, maka ketika kena hujan belerang ini dengan mudah berubah menjadi asam sulfat (kalau gak salah lho). Bisakah batuan andesit berubah sedemikian cepat akibat terkena asam sulfat ini? Mari kita lihat bagaimana batuan bisa berubah.

Batuan mengalami ubahan atau istilah kerennya di dunia geologi ekonomi (jadi sekali lagi dari sudut geologi ekonomi, hehe) disebut 'alterasi batuan'. Alterasi pada batuan tidak begitu instan terjadi. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan ratusan tahun untuk mengubah atau merusak batuan yang dikenainya. Dibutuhkan waktu yang lama untuk merubah batuan segar menjadi lapuk. Selain faktor waktu, suhu, tekanan dan komposisi fluida secara bersama-sama berperan dalam merubah batuan. Jadi apakah dalam waktu 1 minggu atau 1 bulan batu candi akan berubah?

Jadi, untuk merubah atau merusak batuan dibutuhkan interaksi antara air yang sifatnya asam dengan batuan yang cukup lama. Ini istilah kerennya, water rock interaction. Atau abu vulkanik mengandung unsur F yang tinggi, sehingga ketika hujan berubah menjadi asam fluorida yang sangat mudah merusak bebatuan. Menurut beberapa artikel, letusan yang sifatnya menengah tidak mengandung F yang tinggi. F dijumpai pada magma yang asam atau sangat asam.

Atau mari kita lihat contoh yang gampang saja. Apakah candi-candi yang tertimbun ratusan tahun silam oleh letusan abu vulkanik dan akhirnya ditemukan kembali melalui penggalian rusak parah? Nggak, kan? Paling cuman rusak-rusak dikit lah. Andaikan sebegitu hebatnya abu vulkanik, mestinya candi-candi yang tertimbun abu vulkanik ratusan tahun silam sudah tidak ada bentuknya. Jadi, pada kasus Candi Borobudur sebenarnya lebih tepat untuk menyelamatkan pengunjung dari abu yang tersebar di sekitar candi (menurut ane neh). Gak usah khawatir pada candinya, tetapi khawatirlah pada manusia yang mengunjungi candi, ya gak?

0 komentar: